Bismillaah...
Hai Indonesia!!...^_^
Pertanian merupakan daur hidup yang terus berkembang dan menjadi salah satu hajat hidup manusiandi bumi. Mengapa dikatakan daur hidup??...karena semua yang diberikan pertanian dapat digunakan kembali untuk pertanian.
Pertanian dalam arti luas meliputi ternak, kebun, ladang, hutan dsb. Seperti yang dikatakan daur hidup, kotoran ternak hasil peternakan dapat digunakan kembali untuk pupuk, kompos dan penyubur tanah dan memungkinkan memberikan hasilyang baik untuk pertanian. Sebaliknya hasil atau bahkan sisa- pertanian dapat digunakan sebagai pakan ternak seperti jerami, gabah dsb.
Sebagai mahasiswi pertanian, saya sangat bangga ikut belajar mengenai pertanian. Belajar pertanian saya fikir meluas sekali, biologi, kimia, fisika ada nyempil-nyempil, bahkan kehidupan luar yang sangatlah luas dipelajari disini. Kami di pertanian bukan saja harus memahami kondisi manusia yang berkaitan dengan pertanian saja namun juga harus bisa memahami kondisi dan bahkan komunikasi dengan tanaman-tanaman baik yang liar maupun dibudidayakan. Seperti gulma salah satu tanaman yang bisa merugikan tanaman utama ataupun dapat menguntungkan karena dapat dijadikan TOGA (Tanaman Obat Keluarga).=) .Yups, semua yang diciptakan Allah swt pasti ada fungsinya, hanya kita saja yang belum meng-explore. Belajar PHT (Pengendalian Hama dan penyakit Tanaman), hmmm bukan hal yang mudah, karena pasiennya berupa tanaman yang tidak bisa diajak bicara mengenai keluhan-keluhan yang dideritanya, jadi kita harus pandai-pandai mencari tau dan menyelidiki, mereka ahli PHT biasa disebut “dokter tanaman”, dan semua orang bisa menjadi seperti itu. Berkawanlah dengan mereka (tanaman-tanaman) karena mereka juga makhluk hidup, yang dapat saling berbagi dengan kita para manusia. Semua itu ciptaan Allah swt =)
Pertanian menjadi tonggak hidup manusia karena jika pertanian tidak ada, manusia tidak bisa bertahan seperti ini. Makanan pokok (nasi) merupakan hasil pertanian, sangat krusial bukan??...teman nasi untuk dikonsumsi juga merupakan hasil pertanian. Jadi harus bagaimanakan pertanian kita ke depan??
Terkhusus buat Indonesia,,Hai Indonesia!!..=), negara yang kaya akan sumber daya alam dan hasil pertanian. Mari kita bangun pertanian dengan tangan-tangan dan kepala yang dingin. Saya fikir generasi kita berikutnya sudah bagus pemikiranya, dan lebih banyak pengetahuanya, hanya saja MORAL yang harus ditegakan, dan seharusnya jika Moral baik-baik saja,,insya Allah kedepanya Indonesia bisa menjadi negara “MERCUSUAR” dunia. Teringat seorang petani hortikultur yang memberikan statement-nya berupa “bangun badanya namun tidak bangun jiwanya!” . Saya sempat tersindir juga sebagai mahasiswa hehehe.=). Pelatihan yang membangun sikap, para penerus pertanian (petani) juga dapat diadakan di dalam organisasi karang taruna, atau bahkan ibu-ibu pkk boleh ikutan. So jadi Petani harus berani dan tangguh.
Ahli teknologi pertanian juga harus dapat membuat sesuatu yang dapat digunakan petani untuk membantu lancarnya proses pertanian di tempatnya. Mengingat sekarang merupakan jaman yang serba ada dan cepat. Jadi Indonesia ga boleh ketinggalan. Ternyata, membuat sesuatu yang sederhana untuk pertanian tidaklah mudah, generasi penerus bangsa yang bergerak dibidang pertanian juga harus dapat mengerti kebutuhan para petani, agar semua yang dihasilkan menjadi berguna dan bermanfaat untuk semua.
Saya juga agak mengerti, mengapa pertanian kita masih begini aja, apakah karena SDA kita sudah banyak dan kaya lalu kita berleha-leha dibawah kekayaanya dan hanya bisa terima-terima saja?? Bak anak orang kaya yang mendapat banyak fasilitas lalu mereka menjadi malas untuk mencari dan mengasah sesuatu yang justru membuat mereka bertambah baik. Jawabanya: TIDAK..anak orang kaya saya lihat ada yang juga pintar dan memanfaatkan fasilitas untuk mendukung kerajinanya, dan itu tergantung dengan siapa dia dididik dan bagaimana cara mendidiknya, berarti sama halnya pertanian kita, yang tergantung siapa yang mengolah dan bagaimana cara mengolahnya (SDM). Jikalau ahli pertanian yang jujur dan bermoral semua berkumpul untuk mengolah SDA kita yang oke ini, Insya Allah bisa menjadi yang lebihhh baik. Bahan dasar sudah ada semua disini, saya juga masih bingung dengan pernyataan, apakah perekonomian yang menjalankan pertanian ATAU pertanian yang menjalankan perekonomian?? Mau yang mana dulu??
Petani kita memang banyaknya merupakan petani kecil. Mereka memiliki lahan yang tidak cukup luas atau hanya dijadikan lahan produksi keluarga. Di desa kecil tempat penggilingan padi sudah ada, namun petani harus mengeluarkan kocek untuk menggiling padi menjadi beras. Di tempat saya yang saya singgahi untuk 10 kg beras dihargai Rp. 6000, sedangkan untuk petani kecil bisa saja hanya menghasilkan 3 karung yang setiap karungnya 50 kg, coba kalau digiling semua berapa yang harus dikeluarkan??. Untuk saat ini maklum kali ya, tapi untuk ke depan sebaiknya petani sudah harus bisa menggiling padinya sendiri,,(hehehehe). Tapi kalau sudah UUD (Ujung-ujungnya Duit) susah juga, mau dikata apa?.
Pemusatan pertanian khusus agribisnis diperlukan, petani besar dan kecil menyatu dibawah naungan departemen pertanian. Semua kebutuhan pertanian seperti pupuk, PHT, benih dan semua prasarana dibantu. Standarisasi harga dan kualitas hasil juga harus ada sehingga dalam proses pemasaran tidak ruwet. Menurut petani yang kami pernah tanya, mereka bingung dalam masalah pemasaran, harga dipasar yang terkadang membuat mereka rugi apalagi jika menggunakan jasa tengkulak yang tidak jujur. Standarisasi harga ditentukan oleh lembaga pertanian, dan hasil panen diberikan pada bagian dari lembaga pertanian yang kemudian dipasarkan dengan harga yang sama sesuai kualitas. Jika seperti itu, petani juga berusaha meningkatkan kualitas pertanianya dengan feed back yang sesuai dan tentu.
Sharing hal yang sering terlupakan, dalam bertindak. Petani dan semua yang khususnya di bidang pertanian harus banyak sharing, sehingga dapat ditemukan permasalahan dan kebutuhan yang diperlukan petani saat itu. Saya lihat dan saya dengar, saat ini beberapa ahli pertanian yang asyik dibidangnya tanpa mengetahui kebutuhan petani saat ini, sehingga yang dihasilkan belum bisa membantu petani dan bermanfaat untuk petani, “apa sih yang dibutuhkan petani, bisakah kami bantu??”. Begitupun sebaliknya, beberapa petani masih segan dan malas untuk mendapatkan informasi tentang, “apa sih yang sekarang lagi in untuk pertanian?”. Banyak juga diantara mereka bingung, “pada siapa kami mengemukakan masalah dan keluhan mengenai lahan budidayayanya?”. Terbukti dengan pengalaman saya di suatu daerah, ketika kami membuat kompos dengan bahan yang menurut kami sudah familiar, namun ketika kami perkenalkan bahan tersebut, petani ternyata belum mengetahui bahan itu. Jadi kemanakah komunikasi antara lembaga pertanian dan petani desa??.Terdapat pula Agroklinik (tempat PHT) namun terlihat sepi kunjungan petani, atau seperti tidak ada yang bekerja di dalamnya. KOORDINASI sepertinya kurang.
Pertanian kita banyak, untuk pangan oke, untuk hortikultur oke, untuk florikultur oke, untuk ternak oke, untuk perkebunan juga oke…
Jadi bagaimana?? Mau maju atau tidak??..mari kita berfikir bagaimana memfasilitasi fasilitas yang sudah ada..=D..
INDONESIA….feed the world..hehehehehe…
“Bangunlah Badanya dan Bangunlah Jiwanya”..amin ya Allah swt..=D
NB : (masih dalam proses),,catatan ini merupaka tulisan dari seorang mahasiswi pertanian, yang masih dalam proses belajar =),,jika ada kurang dan lebihnya mohon maaf yang sebesar-besarnya,,hehehehe
^.^
Buka aja ke blog saya di ; khusus pertanian..^^