![]() |
| doc : from google pictutes |
akan kemanakah setelah ini??
Terkadang tujuan ingin jadi apa, itu sudah ada, tapi jalan untuk mencapai tujuan itu sebenarnya pasti banyaak, dan kita disuruh memilih,
yang manakah yang memungkinkan atau tidak memungkinkan,,, disinilah yang membuat bingung.
antara keinginan sendiri atau orang tua, antara ingin berkembang atau tidak, dan antara memikirkan hari tua atau biasa saja dan biarkan mengalir sesuai rezekinya...
terkadang bahkan tak diduga-duga bisa saja keluar dari tujuan kita sebenarnya.... karena faktor lingkungan (ahahaha bahasa skripsi ="=)
dan semua itu sebenarnya tidak boleh dipaksakan dan harus benar-benar difikirkan.
yang tahu kemampuan itu diri kita sendiri.
keep positive thingking,,, just say "there's no point to being sad!"
khekhekhe...
dan ketika berlebaran mengunjungi sanak saudara, ayah kebetulan diberi kumpulan artikel om Aswil Nizar yang merupakan tulisan-tulisannya sejak tahun 2011.
Dan ketika saya baca, ternyata ada satu judul yang paling menarik untuk dibaca yaitu
"Obrolan Warung Kopi : Pilih PNS atau Pegawai Swasta"
bagini isi artikelnya :
...................................................
Oleh : Aswil Nizar
Ketika berbincang bincang dengan pengelola swasta sebuah Universitas Swasta terkemuka, saya diminta untuk memberikan komentar mengenai fakultas Teknologi Informasinya. Dalam memberikan komentar, sekilas saya sampaikan bahwa dosen muda yang jadi Wakil Dekan kelihatannya punya potensi untuk dikembangkan.
Namun jawaban yang keluar dari mulut beliau sungguh mengejutkan :"ya betul, tetapi tadi pagi dia baru saja menyampaikan surat pengunduran diri. Dia diterima sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil)"
Saya cuman bisa termangu mendengarnya sambil membatin, "rupanya menjadi pegawai negeri sipil masih lebih menarik ketimbang jabatan Wakil Dekan di Universitas Swasta."
PRO KONTRA ANTARA PEGAWAI NEGERI SIPIL ATAU SWASTA
Beberapa kenalan yang saya tanyai dalam berbagai kesempatan, punya aneka jawaban yang menarik untuk disimak,
Penanya : " boleh tau, kenapa Anda memilih karir di jalur PNS?"
Responden 1 :" lebih terjamin masa tuanya. Uang pensiun dan jaminan kesehatan (ASKES) akan terus diterima sampai kita meninggal. Mana ada fasilitas ini di swasta?"
Responden 2 :" Ada tambahan lagi. Sebagai pegawai negeri status kepegawaian saya lebih terjamin dibandingkan swasta. Perusahaan swasta kan bisa saja bangkrut atau melakukan penciutan karyawan. Disamping itu sebagai PNS peluan untuk dipecat sangat kecil. Buktinya ada di depan mata. Tuh istri Gayus Tambunan di Pemda DKI hanya dipindahkan ke bagian lain, ngga dipecat."
Responden 3:" di daerah saya, penghargaan masyarakat terhadap pegawai negeri akanlebih tinggi daripada mereka yang karyawan swasta. Statusnya terlihat lebih terhormat."
Responden 4 :"para orang tua di Aceh sejak dulu menganggap bahwa anak-anaknya belum berhasil menjadi pegawai negeri."
Responden 5:"tadinya saya mau masuk swasta. Tapi sewaktu dulu lihat situasi ekonomi yang tidak menentu dan adanya perbaikan remunerasi terhadap pegawai negeri khususnya di sektor pendidikan, saya daftar ke DEPDIKNAS dan lulus."
Responden 6:" saya sih cita-cita mau melanjutkan sekolah lagi kejenjang tinggi. Dan jalur yang paling menjanjikan adalah jadi dosen di perguruan tinggi negeri. Awalnya melamar BPPT tapi gagal!"
Penanya :"apa yang memotivasi anda memilih sektor swasta?"
Responden 7 :" semasa kuliah ada opini umum di kalangan mahasiswa tentang dunia pekerjaan. Katanya kalau ingin pekerjaan yang santai dan terjamin sampai hari tua walau gajinya kecil, jadilah pegawai negeri. Kalau ingin mengembangkan diri dan tak mau dikekang oleh birokrasi pilihlah swasta. Dan saya pilih opsi kedua, karena saya ingin berkembang."
Responden 8 :"Saya ingin gaji yang lebih besar dengan cara yang halal. Makanya saya pilih swasta?"
Penanya :"lho, emang jalur swasta dijamin halal? atau pertanyaannya dibalik, apakah mereka yang memilih jalur non swasta itu penghasilannya tidak halal?"
Responden 8 :"waduh, maaf mas. Bukan begitu maksud saya. Maksud saya, umunya gaji PNS kan lebih kecil. Takutnya iman saya jadi goyah dan terjerumus berbuat salah. Kan ada istilah vahwa FAKIR itu dekat dengan KAFIR jika tidak hati-hati."
PROBLEMA DUNIA SWASTA SAAT INI
Ketika mewawancara sejumlah pelamar untuk lowongan kerja IT di kantor minggu lalu, saya menemui sebuah kenyataan yang menarik untuk direnungkan.
Ternyata sebagian pelamar adalah karyawan perusaaahn swasta yang masih aktif, dan......berstatus sebagai staf kontrak selama bertahun-tahun.
Sehingga waktu saya tanyakan, "apa yang membuat anda tertarik untuk melamar kesini?" hampir semua menjawab :"saya mau bekerja sebagai staf permanen, bukan kontrak."
dan hanya seorang yang menjawab ia ingin mencari tantangan yang lebih besar.
STAF PERMANEN ===> itulah kata kunci yang saya dapatkan yang implisit bermakna
"job security"
Hal ini membuat saya berfikir hingga terbawa pulang, berapa banyak pekerja profesional yang merasa tidak nyaman dengan status kontrak ini. Sebagai karyawan kontrak, individu tersebut tidak memperoleh fasilitas dan bene fit seperti halnya karyawan tetap atau permanen. Khusus asuransi kesehatan, item yang satu ini seolah menjadi faktor penentu bagi calon karyawan yang melamar pekerjaan. Seperti contoh diatas, banyak orang memilih bekerja sebagai pegawai negeri karena jaminan kesehatan ASKES seumur hidup. Setelah pensiunan mereka relatif merasa aman jika menderita sakit, termasuk sakit kronis sekalipun. Soal gaji kecil tidak menjadi masalah, pasti ada jalan untuk mencari tambahan atau ngobyek.
Ditambah lagi dengan kenyataan dalam kondisi ekonomi yang tidak menentu belakangan ini, sebuah perusaah besar bisa saja limbung, sehingga mem-PHK karyawannya. Job security di sektor swasta semakin dipertanyakan. Ujung-ujung, begitu ada ujian masuk CPNS, peminatnya berjibun, tumpah ruah ibarat ujian masuk universitas negeri era SKALU tahun 70-80 an. MAka ketika ada isu bahwa masuk PNS bisa dilakukan dengan imbalan uang seratusan juta rupiah, itu bukanlah suatu yang mustahil. Tapi membuktikannya pasti sulit karena kelihaian para pelakunya.
SOAL REJEKI, ITU HAK PREROGATIF TUHAN
Sebagai tambahan, saya pernah mendapat nasehat dari seorang teman senior agar di dalam pekerjaan harus selalu ingat bahwa semua rejeki itu datangnya dari SANG MAHA PEMBERI REJEKI, Allah swt. Artinya jangan sampai kita mempersekutukan NYA dalam situasi apapun. Terlalu mengidolakan atasan sehingga bersedia melakukan pekerjaan salah yang diperintahkannya, bisa dianggap mempersekutukan Tuhan.
Cukup sering saya mendengar keluhan teman-teman sekerja yang melakukan tindakan "salah' atas perintah atasan, tetapi tetap dikerjakan dengan alasan dia harus menafkahi keluarga. Seolah-olah tidak ada pilihan lain untuk berkarya selain di tempat tersebut. Kasus seperti ini banyak terjadi.
(ada juga yang dia bertahan dengan prinsipnya, dan keluar dari pekerjaanya, dia tidak khawatir dengan rejeki yang tak mungkin tertukar itu,,sehingga seorang temannya itu membuka usaha sendiri dan masih survive hingga saat ini)
Kasus ini merupakan bukti nyata bahwa kita berjalan diatas rel-NYa, insya Allah Dia akan memberikan jalan terbaik buat kita. Aamiin
Jadi, pilih yang mana??
